Sudah tidak asing lagi di telinga
kita tentang apa itu Tepa Selira atau dalam bahasa Indonesia dikenal
dengan sebutan Tenggang Rasa. Itulah salah satu alasan mengapa turis atau warga asing betah untuk datang dan menetap di negara ini. Budaya tersebut sudah
menjadi ciri khas bangsa Indonesia terutama di pulau Jawa dan orang Jawa itu
sendiri. Namun, di era milenial budaya yang diagung-agungkan ini telah luntur
dan menjamur bahkan hanya menjadi piagam penghargaan yang cukup dimusiumkan,
dikeramatkan, bahkan dipuja tanpa diterapkan.
Era milenial tidak harus dipojokan,
justru itu sebagai wadah untuk mengekspresikan diri. kesalahan bukan dari
wadahnya namun tokoh dibalik wadah itu sendiri. Benar, dialah manusia yang
harus bertanggung jawab akan hilangnya sebagian keharmonisan dalam
bermasyarakat. Dampak ini seharusnya sudah harus dihentikan sehingga tidak
mendarah daging pada generasi muda bangsa. Namun itu juga hanya wacana dan
orasi tanpa pendidikan karakter khusus tersendiri. Semua dimulai bukan dari
masyarakat namun semua kehidupan dan tingkah laku berawal dari keluarga. Dari
keluarga semua nilai diterapkan pada setiap individu yang lahir. Sementara
pendidikan, norma, dan aturan negara hanya menyelaraskan untuk sejalan.
Tepa Selira atau
tenggang rasa adalah sikap menghargai orang lain yang diwujudkan melalui lisan,
perbuatan, dan tingkah laku tidak memandang ras, suku, agama, derajat/pangkat,
bahkan keturunan. Sehingga setiap dari individu harus bisa menerapkan tradisi
tersebut, terutama di wilayah Jawa. Orang Jawa sendiri dikenal akan unggah-ungguh yang baik, nilai kesopanan
yang tinggi, dan cara menghargai orang lain sangat mulia. Sebagai contoh badan
membungkukan badan ketika berjalan di depan orang yang lebih tua umurnya. Selain
itu mempersilahkan orang duduk, memberi petunjuk jalan, dan menunjuk tempat
atau benda dengan ibu jari. Menggunakan tata bahasa yang berbeda-beda setiap
tingkatannya. Dikenal dengan sebutan basa
ngoko lugu, basa ngoko alus, basa krama lugu, basa krama alus yang dimana
setiap tatanan bahasa mempunyai aturan yang berbeda. Semua itu diterapkan hanya
untuk menghormati orang lain.
Kebiasaan yang bahkan telah menjadi
tradisi dari leluhur akan adab tingkah laku dan saling menghargai orang lain
ini bahkan telah usang. Semua orang dari kalangan manapun dan dari usia
berapapun tidak ada yang tidak mengenal gadged.
Sebuah teknologi canggih yang dikemas secara praktis serta menampung beberapa
aplikasi software yang bisa menjadi alat bisnis, komunikasi, bahkan parahnya
bisa menjadi teman dan menggantikan teman itu sendiri.
Semua orang memperlakukan handpone seperti sahabat, sedangkan
dengan manusia bahkan temannya tak lebih sebuah alat itu sendiri. Perhatikan
saja pada gambar di samping. Secara fisik mereka bersama secara jiwa mereka
individu. Masyarakat dulu (Jawa) tidak menerapkan gaya seperti orang asing ini.
Mereka duduk dan saling bertegur sapa, salaman
(saling berjabat tangan), bahkan saling bertanya tentang pekerjaa, anak,
dan pendidikan. Sehingga hubungan kekeluargaan dalam masyarakat itupun
terjalin. Masyarakat yang sebenarnya masyarakat akan terwujud.
Selain di tempat umum atau sedang
mengantri, bahkan keadaan sama terjadi pada kaum muda, remaja, bahkan anak-anak
sekarang atau lebih dikenal dengan anak jaman
now. Mereka yang merupakan pengaruh terbesar dari sebuah negara harus lebih
mengerti dan paham akan norma dan nilai masyarakat. Namun nilai dan norma hanya
menjadi warisan tanpa pemilik. Contohnya seperti permainan pada jaman dulu dan
jaman sekarangpun sangatlah berbeda. Pergeseran budaya mulai terlihat pekat,
bahkan menggeser budaya asli dari tanah Jawa. Sebelum mengenal adanya gadged, anak-anak lebih memilih bermain
bersama teman-temannya, berkumpul dan berkelompok memainkan salah satu
permainan contohnya gobak sodor,
cublak-cublak suweng, petak umpet, dan masih banyak lagi. Namun pada saat
ini, kebiasaan tersebut hanya menjadi sejarah bahkan dongeng belaka. Anak-anak
lebih asik menggunakan gadgednya
daripada bermain bersama. Terkadang hanya bersama dalam fisik namun secara
komunikasi sudah terputus. Bahkan dalam hal berkomunikasi mereka tidak bisa
menghargai orang lain, bagaimana dalam hal yang lain. Nilai tenggang rasa
itupun sudah hilang bahkan dari usia anak-anak. Pada usia merekalah usia emas
yang harus dijaga. Penanaman moral dan perilaku berkarakter yang harus ditanamkan.
Lalu dalam hal ini siapa yang harus dimintai pertanggung jawaban?
Pertanyaan yang mungkin tidak ada
jawaban atau seseorang tidak ada yang mau menjawab. Tentu yang harus merubah
dari diri individu itu sendiri. Mereka tentu tidak bisa tumbuh dan berkembang
sendiri, pasti membutuhkan orang lain. Dalam usaha membutuhkan orang lain itu
seseorang harus bisa lebih menghargai orang lain. dalam hal perubahan mulaiklah
dari diri sendiri. Mungkin banyak dari kalangan masyarakat yang tidak mau
memulai terlebih dahulu karena merasa dirinya tidak dihargai balik. Pikiran-pikiran
mencari imbalan seperti itu lekas dihilangkan dan dibuang dari pikiran kita. Bertindaklah
dengan ikhlas dan mencoba merespon dan memperhatikan orang lain ketika
berbicara, menyimpan handphone ketika
berkomunikasi dengan orang lain, membungkukan badan ketika berjalan di depan
orang yang umurnya lebih tua atau yang di hormati, dan wujud-wujud etika dalam
bermasyarakat.
Etika orang Jawa yang sering di kenal
dengan Tepa Selira ini dijaga dan
harus dipertahankan. Mulailah dari diri sendiri, wujudkan dari lingkungan
keluarga. Perubahan kecil mungkin bisa mengubah dunia, dan itu mungkin terjadi
karena perubahan dari dirimu sendiri!
Comments