Skip to main content

Featured

SEL KANKER HILANG DENGAN AKAR BAJAKAH

Gambar Akar Bajakah Blog kali ini akan membahas salah satu penyakit ya ng ditakuti semua orang bahkan penderitanya. Iya, sebut saja penyakit kanker. Apa kalian tau apa itu kanker? dan  apakah hanya bisa disembuhkan dengan cara operasi atau berulang kali kemoterapi dan berbagai pengobatan media lainnya.......?        TIDAK !   Mari kita bahas di bawah ini.        Kanker adalah penyebab kematian kedua terbanyak di seluruh dunia. Kanker sering menyebabkan kematian karena umumnya penyakit ini tidak menimbulkan gejala pada awal perkembangannya, sehingga baru terdeteksi dan diobati setelah mencapai stadium lanjut. Adapun yang menjelaskan bahwa kanker merupakan penyakit mematikan dan penyebab utama kematian di negara industri dan penyebab kedua kematian di negara berkembang. Sebanyak 12,7 kasus baru kanker dilaporkan setiap tahun dengan angka kematian 7,6 juta diseluruh dunia.  Apa Penyebab Kanker? Gamba...

LUNTURNYA TENGGANG RASA "TEPA SELIRA" MASYARAKAT JAWA




Sudah tidak asing lagi di telinga kita tentang apa itu Tepa Selira atau dalam bahasa Indonesia dikenal dengan sebutan Tenggang Rasa. Itulah salah satu alasan mengapa turis atau warga asing betah untuk datang dan menetap di negara ini. Budaya tersebut sudah menjadi ciri khas bangsa Indonesia terutama di pulau Jawa dan orang Jawa itu sendiri. Namun, di era milenial budaya yang diagung-agungkan ini telah luntur dan menjamur bahkan hanya menjadi piagam penghargaan yang cukup dimusiumkan, dikeramatkan, bahkan dipuja tanpa diterapkan. 

Era milenial tidak harus dipojokan, justru itu sebagai wadah untuk mengekspresikan diri. kesalahan bukan dari wadahnya namun tokoh dibalik wadah itu sendiri. Benar, dialah manusia yang harus bertanggung jawab akan hilangnya sebagian keharmonisan dalam bermasyarakat. Dampak ini seharusnya sudah harus dihentikan sehingga tidak mendarah daging pada generasi muda bangsa. Namun itu juga hanya wacana dan orasi tanpa pendidikan karakter khusus tersendiri. Semua dimulai bukan dari masyarakat namun semua kehidupan dan tingkah laku berawal dari keluarga. Dari keluarga semua nilai diterapkan pada setiap individu yang lahir. Sementara pendidikan, norma, dan aturan negara hanya menyelaraskan untuk sejalan.

Tepa Selira atau tenggang rasa adalah sikap menghargai orang lain yang diwujudkan melalui lisan, perbuatan, dan tingkah laku tidak memandang ras, suku, agama, derajat/pangkat, bahkan keturunan. Sehingga setiap dari individu harus bisa menerapkan tradisi tersebut, terutama di wilayah Jawa. Orang Jawa sendiri dikenal akan unggah-ungguh yang baik, nilai kesopanan yang tinggi, dan cara menghargai orang lain sangat mulia. Sebagai contoh badan membungkukan badan ketika berjalan di depan orang yang lebih tua umurnya. Selain itu mempersilahkan orang duduk, memberi petunjuk jalan, dan menunjuk tempat atau benda dengan ibu jari. Menggunakan tata bahasa yang berbeda-beda setiap tingkatannya. Dikenal dengan sebutan basa ngoko lugu, basa ngoko alus, basa krama lugu, basa krama alus yang dimana setiap tatanan bahasa mempunyai aturan yang berbeda. Semua itu diterapkan hanya untuk menghormati orang lain. 

Kebiasaan yang bahkan telah menjadi tradisi dari leluhur akan adab tingkah laku dan saling menghargai orang lain ini bahkan telah usang. Semua orang dari kalangan manapun dan dari usia berapapun tidak ada yang tidak mengenal gadged. Sebuah teknologi canggih yang dikemas secara praktis serta menampung beberapa aplikasi software yang bisa menjadi alat bisnis, komunikasi, bahkan parahnya bisa menjadi teman dan menggantikan teman itu sendiri.

Semua orang memperlakukan handpone seperti sahabat, sedangkan dengan manusia bahkan temannya tak lebih sebuah alat itu sendiri. Perhatikan saja pada gambar di samping. Secara fisik mereka bersama secara jiwa mereka individu. Masyarakat dulu (Jawa) tidak menerapkan gaya seperti orang asing ini. Mereka duduk dan saling bertegur sapa, salaman (saling berjabat tangan), bahkan saling bertanya tentang pekerjaa, anak, dan pendidikan. Sehingga hubungan kekeluargaan dalam masyarakat itupun terjalin. Masyarakat yang sebenarnya masyarakat akan terwujud.

Selain di tempat umum atau sedang mengantri, bahkan keadaan sama terjadi pada kaum muda, remaja, bahkan anak-anak sekarang atau lebih dikenal dengan anak jaman now. Mereka yang merupakan pengaruh terbesar dari sebuah negara harus lebih mengerti dan paham akan norma dan nilai masyarakat. Namun nilai dan norma hanya menjadi warisan tanpa pemilik. Contohnya seperti permainan pada jaman dulu dan jaman sekarangpun sangatlah berbeda. Pergeseran budaya mulai terlihat pekat, bahkan menggeser budaya asli dari tanah Jawa. Sebelum mengenal adanya gadged, anak-anak lebih memilih bermain bersama teman-temannya, berkumpul dan berkelompok memainkan salah satu permainan contohnya gobak sodor, cublak-cublak suweng, petak umpet, dan masih banyak lagi. Namun pada saat ini, kebiasaan tersebut hanya menjadi sejarah bahkan dongeng belaka. Anak-anak lebih asik menggunakan gadgednya daripada bermain bersama. Terkadang hanya bersama dalam fisik namun secara komunikasi sudah terputus. Bahkan dalam hal berkomunikasi mereka tidak bisa menghargai orang lain, bagaimana dalam hal yang lain. Nilai tenggang rasa itupun sudah hilang bahkan dari usia anak-anak. Pada usia merekalah usia emas yang harus dijaga. Penanaman moral dan perilaku berkarakter yang harus ditanamkan. Lalu dalam hal ini siapa yang harus dimintai pertanggung jawaban?

Pertanyaan yang mungkin tidak ada jawaban atau seseorang tidak ada yang mau menjawab. Tentu yang harus merubah dari diri individu itu sendiri. Mereka tentu tidak bisa tumbuh dan berkembang sendiri, pasti membutuhkan orang lain. Dalam usaha membutuhkan orang lain itu seseorang harus bisa lebih menghargai orang lain. dalam hal perubahan mulaiklah dari diri sendiri. Mungkin banyak dari kalangan masyarakat yang tidak mau memulai terlebih dahulu karena merasa dirinya tidak dihargai balik. Pikiran-pikiran mencari imbalan seperti itu lekas dihilangkan dan dibuang dari pikiran kita. Bertindaklah dengan ikhlas dan mencoba merespon dan memperhatikan orang lain ketika berbicara, menyimpan handphone ketika berkomunikasi dengan orang lain, membungkukan badan ketika berjalan di depan orang yang umurnya lebih tua atau yang di hormati, dan wujud-wujud etika dalam bermasyarakat.

Etika orang Jawa yang sering di kenal dengan Tepa Selira ini dijaga dan harus dipertahankan. Mulailah dari diri sendiri, wujudkan dari lingkungan keluarga. Perubahan kecil mungkin bisa mengubah dunia, dan itu mungkin terjadi karena perubahan dari dirimu sendiri!

Comments